Friday, 22 November 2013

Paradoks Pembelaan Petani Tembakau

Hari ini Tempo membeberkan fakta-fakta mengenai deretan orang terkaya di Indonesia versi Majalah Forbes. Sudah bisa ditebak siapa-siapa saja yang mampu menduduki kursi emas dan siapa pula yang tersingkir. Mereka menguasai bermacam-macam bisnis dengan kecerdasan luar biasa. Kemampuan ini tentu saja harus membuat kita bangga sebagai bangsa Indonesia.

Kali ini kita tidak akan membahas kecerdasan mereka ataupun mengemis motivasi agar bisa menjadi wirausaha muda. Kita harus sadar bahwa tidak sedikit dari mereka yang kaya adalah pemilik perusahaan rokok. Industri yang bodohnya masih diperdebatkan oleh bangsa kita ketika diluar sana penduduk dunia sudah memberikan putusan tetap yang mengerikan bagi pemilik perusahaan rokok. Sekali lagi, perlu digarisbawahi, bagi pemilik perusahaan rokok. Bukan lagi petani tembakau.

Sumber Gambar: aktual.com

Peraih nomor wahid adalah seorang konglomerat perusahaan rokok dengan kekayaan US$ 15 miliar atau setara dengan Rp 175,5 triliun. Bohong besar kalau pendapatannya ini diteteskan pada para buruhnya yang bergelar petani tembakau itu. Petani tembakau tidak pernah menikmati peningkatan kesejahteraan seiring dengan melonjaknya produksi rokok. Bahkan di beberapa daerah upah mereka berada di bawah standar upah minimum. Selain itu mereka juga mempekerjakan anak-anak dan wanita hamil dengan jam kerja yang tidak berbeda jauh dibandingkan pekerja biasa.

Tanaman yang sudah jelas tidak seberapa menguntungkan bagi mereka selain untuk menyambung hidup ini, tetap dipertahankan karena mereka tidak punya pilihan lain. Pengalihan usaha dari petani tembakau ke jenis usaha lain yang lebih menguntungkan memang menjadi solusi yang paling tepat.

Sayangnya, entah siapa yang memulai, opini publik yang sampai di sebagian masyarakat adalah keraguan untuk mengekang laju produksi rokok dengan alasan  membela petani tembakau yang ditempatkan pada posisi tertindas. Data yang ditunjukkan sudah pasti itu-itu saja dan tidak berkembang. Gerakan ini 'dipaksa' meluas yang mungkin tujuan akhirnya adalah mempertahankan kejayaan industri rokok yang sudah jelas tidak sehat itu.

Gerakan ini sudah jelas sangat tidak realistis dengan data-data yang kabur. Disaat generasi muda bahkan lebih pantas jika disebut generasi kecil kita bebas dan aktif merokok, perusahaan rokok justru semakin gencar memasang iklan rokok. Fenomena yang di kota-kota besar Amerika yang liberalis sudah jelas-jelas tidak ditemui. Rokok sangat mahal disana dan hanya bisa dijual secara 'tersembunyi'. Akan sulit dijangkau oleh anak-anak seperti halnya di Indonesia.

Solusi yang harus kita pikirkan bersama sudah jelas adalah mencari usaha lain untuk para petani tembakau. Bukan justru mengkampanyekan 'rokok adalah nyawa petani tembakau' yang sudah jelas-jelas bohong besar. Rokok hanya menguntungkan para kolongmerat. Tidak ada fakta lain.

Rokok adalah candu dan jutaan pecandu sudah memenuhi pasar yang menguntungkan para pemulung kekayaan rakyat miskin. Mereka berhasil menelanjangi petani tembakau. Mengesampingkan standar upah dan hak-hak kemanusiaan mereka. Lalu dengan tega menjadikan mereka umpan untuk tumbuh suburnya usaha yang mereka lahap sendiri tanpa memberikan paling tidak sebuah hak yang disebut 'kelayakan' bagi para petani tembakau.

"Saya bukan anti rokok dan saya juga tidak percaya bahwa rokok adalah pembunuh. Tapi saya sangat yakin perusahaan rokok dan lonjakan produksi rokok tidak pernah menguntungkan petani tembakau. Kita haru bersama-sama mencari solusinya yang sudah pasti bukan dengan mempertahankan produksi rokok."

Baca juga :
http://otomotif.kompas.com/read/2009/02/27/19183132/perusahaan.rokok.kaya.petani.tembakau.tetap.miskin

http://ekbis.sindonews.com/read/2013/05/01/33/743858/bps-upah-harian-buruh-dan-petani-naik

http://www.tempo.co/read/news/2010/12/02/090296338/Apindo-Jawa-Timur-Tuntutan-Buruh-Surabaya-Sulit-Terwujud

http://www.tcscindo.org/assets/applets/Fact_Sheet_Petani_Tembakau_Di_Indonesia.pdf