Wednesday, 13 November 2013

Pak Demus dan Poktan "RIMBA LESTARI" : Jadilah Penyuluh Kehutanan!

Berdasarkan data bulan Maret 2011, jumlah total penyuluh kehutanan sebanyak 3.770 orang, dimana penyuluh kehutanan terampil sebanyak 2.570 orang dan tingkat ahli sebanyak 1.200 orang. Jumlah ini sangat kurang dan timpang apabila dibandingkan dengan luas hutan Indonesia yang mencapai 136,8 juta ha. Bahkan untuk 5 tahun kedepan, diperkirakan jumlah penyuluh kehutanan akan berkurang ± 20%, jika tidak ada rekruitmen baru. (Kemenhut)

Pak Demus adalah salah satu dari ribuan penyuluh tersebut. Beliau menjadi penyuluh di 4 kecamatan dengan 48 desa di kabupaten Bogor. Salah satunya adalah desa Karacak, Kecamatan Leuwiliang. Desa ini memiliki kelompok tani bernama "RIMBA LESTARI" yang memiliki usaha hutan rakyat, tanaman manggis, dan durian dibawah bimbingan Pak Demus. Luas lahan yang mereka usahakan sejumlah 43 hektar. Tidak semua lahan merupakan milik masyarakat, sebagian besar milik orang luar desa tersebut. Lahan tersebut dikelola dengan pola kemitraan. Pembagian laba untuk pemilik tanah sebesar 40%, pemodal 40% dan kelompok tani 20%. Pemilik tanah hanya bertugas menyediakan tanah saja, sedangkan pemodal harus membiayai tahap pembibitan hingga pasca panen. Kelompok tani hanya menyediakan tenaga dan mengorganisasikan masyarakat dalam bentuk kepengurusan.Biaya yang dikeluarkan pemodal untuk satu pohon dari pembibitan sampai pasca panen kurang lebih hanya Rp 10.000 saja. 

Pengusaha hutan biasanya selalu memiliki pekerjaan sampingan karena siklus pertumbuhan kayu yang cukup lama. Poktan "RIMBA LESTARI" mengusahakan buah manggis dan durian sebagai hasil tambahan mereka. Dua buah dari Karacak ini cukup terkenal kualitasnya. Masa panen manggis kurang lebih adalah 60 hari, cukup cepat untuk dijadikan penghasilan. Produk tersebut mereka jual langsung ke gudang ekspor tanpa melalui tengkulak sehingga penghasilan mereka lebih tinggi. Mereka sudah mempuntai link yang kuat, jadi tidak mudah tertipu. 

Sistem kerja di kelompok ini cukup menarik. Mereka yang datang bekerja untuk kelompok ini adalah orang-orang yang sedang tidak mempunyai pekerjaan. Mereka memang mempunyai pekerjaan masing-masing (walaupun serabutan) di luar usaha hutan, manggis, dan durian. Jika mereka masih punya pekerjaan lain, mereka tidak akan datang ke poktan untuk bekerja membersihkan lahan, merawat tanaman, dll. Sistem ini dibuat untuk mengurangi jumlah orang yang bekerja di poktan sehingga memberikan kesempatan kepada orang-orang yang benar-benar sedang tidak punya pekerjaan. Sejauh ini sistem tersebut berjalan lancar dan berhasil mengurangi pengangguran. 

Kelompok tani ini beranggotakan 33 orang dengan 6 perempuan dan sisanya adalah laki-laki. Perempuan-perempuan tidak ikut serta dalam kelompok karena mereka sendiri enggan untuk bekerja di dunia kehutanan yang dipandang sebagai pekerjaan laki-laki. Perempuan yang ikut pun hanya membantu persemaian dan pembibitan. Itupun terkadang kurang terampil sehingga tidak sukses pertumbuhan bibitnya. Mereka yang ikut dalam kelompok juga merupakan istri-istri pengelola kelompok tersebut. Kebanyakan prempuan di desa tersebut hanya menjadi ibu rumah tangga. Kegiatan untuk perempuan juga belum ada di desa ini. 

Selain menanam buah-buahan kelompok tani ini juga memiliki domba yang pakannya diperoleh dari rumput-rumput yang ada dibawah tegakan (pohon). 

Dulu masyarakat desa Karacak tidak se-sukses sekarang dengan penghasilan berbilang Milyar. Pak Demus adalah salah seorang yang berjasa meningkatkan kesejahteraan mereka. Beliau adalah penyuluh kehutanan yang berasal dari Medan. Puluhan tahun tinggal di Bogor membuatnya lancar berbahasa Sunda tetap dengan logat Batak. Beliau sebenarnya merasa kewalahan untuk menjadi penyuluh di 4 kecamatan. Untuk itu beliau sangat berharap ada mahasiswa IPB yang mau menjadi penyuluh, terutama di bidang kehutanan. "Mengabdilah untuk masyarakat!," kurang lebih begitulah pesan beliau. Perangainya yang keras benar-benar menampar masyarakat Karacak untuk berjuang menanam pohon. Sifatnya yang humoris meluluhkan ketakutan masyarakat pada beliau sehingga terjalin kekeluargaan yang sangat erat diantara mereka. 

Bismillah, semoga bisa mengabdi seperti bapak, walaupun mungkin bukan dalam bentuk "penyuluh". Biarlah Allah yang mengatur. 

(Fieldtrip Hutan Rakyat~Mahasiswa S2 IPB : Sabtu, 27 April 2013)


Minggu, 05 Mei 2013