Wednesday, 13 November 2013

Obat Sakit Kepala untuk Hama Penggerek Batang Temuan Pak "Newton" Desa Karacak



Sengon adalah salah satu tanaman yang paling sering di tanam di hutan rakyat. Tanaman ini sering terserang hama penggerek batang. Ada satu cerita menarik dari masyarakat desa Karacak, tepatnya Poktan "RIMBA LESTARI" mengenai cara pembasmian hama ini. 

Sumber Gambar: youtube.com

Suatu hari Pak Adung (seorang PKSM = Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat) saat masih baru mengusahakan hutan rakyat dibuat pusing oleh penyebarah hama penggerek batang ini. Hampir semua sengon-nya terkena hama tersebut. Saking lelahnya, beliau duduk beristirahat dibawah pohon. "Kunaon salira (kenapa kamu)?," tanya salah seorang teman. "Abdi rieut(saya pusing)," jawab pak Adung. "Ngaleueut bint*ng 7 wae (minum~salah satu obat sakit kepala~ aja)," balas temannya lagi. Jawaban spontan ini entah mengapa mendatangkan ide cemerlang di otak Pak Adung. Dia pusing, sakit, minumnya obat sakit kepala. Tanamannya juga sakit, kenapa tidak coba diobati dengan obat tersebut. Akhirnya pak Adung melubangi pohon, memasukkan obat sakit kepala tersebut lalu ditutup kembali. Bubuk obat ini kemungkinan larut dengan air yang dibawa akar. 7-10 hari kemudian tanaman ini sembuh dari hama tersebut. Sejak hari itu sampai saat ini tanaman yang terserang hama tersebut selalu diobati dengan obat sakit kepala manusia ini, terbukti mujarab.

Saya membayangkan ide yang masuk ke otak pak Adung secemerlang ide Newton saat kejatuhan apel kemudian menemukan teori gravitasi bumi. hehehe.Masyarakat sebenarnya memang memiliki pengetahuan lokal yang luar biasa. Mereka memiliki ilmu-ilmu tradisi yang diwariskan turun-temurun. Dulunya ilmu ini mungkin penemuannya secara tidak sengaja seperti yang terjadi pada pak Adung. Ilmu hasil kira-kira dan coba-coba. Sayangnya masyarakat sering kurang percaya diri. Pak Adung saat memberikan penjelasan pada kami (saya dan mahasiswa S2 Prof. Hardjanto) juga selalu menggunakan kata "maaf" diawal kalimatnya. Beliau takut apa yang dia katakan yang merupakan hasil pengalaman tidak sesuai dengan apa yang kami pelajari di kampus. "Logika lapangan" begitu beliau menamai ilmunya. Atau ada juga istilah "hitung-hitungan orang kampung" saat beliau menjelaskan permodalan dan keuntungan. Sejauh pengamatan saya, logika mereka dapat diterima walaupun mereka tidak tahu istilah-istilah dan dasar-dasar ilmunya.

Masyarakat desa Karacak merupakan masyarakat yang berhasil menjadi masyarakat yang mandiri secara swadaya. Mereka yang semula mengalami kesulitan untuk mandi kaerna tanah-tanah mereka yang dibeli orang kota hanya ditinggal dan ditumbuhi alang-alang sehingga tidak ada sumber air dari tanah, akhirnya bangkit. Pak Demus dengan keras memaksa mereka untuk menanam pohon. Menanam dan terus menanam hingga menghasilkan, begitu ajaran beliau kepada mereka. Tentu saja ini tidak akan berhasil jika masyarakat tidak gigih berjuang.

(Fieldtrip Hutan Rakyat S2~Sabtu 27 April 2013)

Minggu, 05 Mei 2013