Wednesday, 13 November 2013

Negara Gengsi, Miskin Apresiasi



Seringkali kita iri dengan negara tetangga yang pandai menciptakan teknologi-teknologi baru. Kita juga ingin seperti negeri jiran yang pandai menduplikasi produk dengan skala besar serta pangsa pasar yang luas. Sementara negeri kita melulu menjadi konsumen atas produk negara lain. Negara yang punya kesempatan luas untuk menjadi pasar produk-produk impor. Tingginya jumlah produk asing yang masuk ternyata bukan suatu keadaan yang memprihatinkan karena bangsa kita membutuhkannya sebagai “obat gengsi”. Kualitas pertama kali ditentukan oleh tempat dimana produk itu dibuat. Orang akan lebih bangga memamerkan sebuah barang made in asing dibandingkan made in salah satu daerah di Indonesia.

Masyarakat merasa status sosialnya lebih tinggi ketika tahu banyak tentang film dan tarian boygirl band Korea dibandingkan tahu banyak tentang tari Gambyong. Tapi nanti ketika tari Gambyong tiba-tiba diakui menjadi kebudayaan negeri jiran, dengan sigap kita membelanya sebagai perwujudan gengsi dari lingkungan.

Bangsa Indonesia tidak dianggap oleh masyarakatnya sendiri. Kualitas anak bangsa diragukan oleh negerinya sendiri. Penemuan-penemuan dan prestasi sebagai bukti kreatifitas anak bangsa hanya di-iyakan dengan pemberian label “cukup tahu” tanpa ada tindak lanjut berupa dukungan moril dan materil. Hasil karya mereka hanya menumpuk dalam bentuk akhir sebuah presentasi yang kemudian dibiarkan menguap terlindas zaman karena tidak difasilitasi untuk mengembangkannya. Salah satu adegan dalam Film Habibie Ainun menunjukkan realita ini dengan sangat gamblang bagaimana karya anak bangsa tidak dihargai. 


Sumber Gambar: tirto.id

Para pemilik modal agaknya lebih tertarik menanam benih di usaha-usaha komersial yang berbau profit dan enggan untuk gagal bersama para pemula. Jika ada bantuan pun jumlahnya sangat terbatas. Berbeda dengan proyek-proyek yang profit oriented seperti pembuatan film ataupun pembuatan infrastruktur negara, pemilik modal akan berebut menjadi investor. Hasil-hasil penelitian tidak memiliki posisi sebaik ini. dan sepertinya belum ada yang berpikir untuk memerger kedua karya ini. Misalkan kita membuat suatu film yang menggambarkan mengenai kerentanan pangan di Indonesia beserta cara-cara mencegah dan memperbaikinya dengan hasil dari penelitian-penelitian tersebut. Bukan tidak mungkin untuk melakukan hal ini.

Minimnya apresiasi tentu saja membuat motivasi anak bangsa menurun untuk berkarya. Contoh sederhananya dapat kita lihat dengan sebuah kompetisi berhadiah besar yang memiliki jumlah peminat lebih banyak dan hasil yang lebih spektakuler. Atau lomba-lomba yang memperebutkan beasiswa dan piala bergilir dari instansi tertentu juga tidak pernah sepi dari peminat. Intinya banyak sekali motivasi yang bisa kita berikan kepada anak-anak bangsa untuk bisa terus berkarya. Hal ini seharusnya dilihat sebagai kesempatan untuk mengejar ketertinggalan negeri kita.

Generasi muda penerus bangsa harus diberikan ruang, fasilitas, dan kesempatan untuk terus berkarya dan melahirkan inovasi-inovasi yang membangun. Bangsa kita harus mulai membudayakan apresiasi terhadap karya anak bangsa dan mengetengahkan gengsi demi Indonesia penuh karya.


Selasa, 21 Mei 2013 (9:29 AM)