Monday, 11 November 2013

Membangun Indonesia : Tujuan Utamanya Adalah Mereka yang Tak Seberuntung Kita

Beberapa jam lagi ujian tengah semester (UTS) untuk mata kuliah berbuku setebal bantal tidurku. Ekonomi pembangunan, berkaitan dengan keseluruhan proses politik, budaya, dan ekonomi yang diperlukan untuk mempengaruhi transformasi struktural dan kelembagaan dengan cepat dari seluruh masyarakat demi menghasilkan rentetan kemajuan ekonomi yang bermanfaat dan melalui proses yang efisien bagi sebagian besar penduduknya. Masih banyak materi yang belum aku lahap, bahkan latihan soal belum aku sentuh sama sekali. 

Waktu menunjukkan pukul 1:42, tenang, hanya suara chat FB yang berbunyi setiap beberapa detik, dari salah seorang kawan lama. Pikiranku ter-setting persis seperti saat aku mendengar indahnya akustik yang dimainkan remaja-remaja penerus bangsa pada peringatan "Earth Our" di GWW beberapa hari lalu. Musik yang membuat kepala ikut bergoyang tanpa sadar. Beberapa menit kemudian memoriku aku paksa kembali ke beberapa hari lalu juga, tepatnya di belokan Berlin dari arah Bateng. Dari dalam angkot aku melihat bapak-bapak gendut berjalan dikawal beberapa petugas keamanan. Mereka tersenyum, melihat kanan kiri, dan sesekali tertawa. Wajah mereka mendramakan skenario bahwa mereka sedang menganalisa permasalahan di daerah tersebut untuk kemudian mencari solusinya. Menjanjikan sekali. Aku penasaran dengan identitas mereka. Ketika mereka melewati angkotku yang kebetulan masih terjebak macetnya pasar kaget, aku sempat melihat nama sebuah lembaga yang terbordir rapi di topi-topi mereka. "oooooh," ternyata mereka dari lembaga X. Apa ya bukti nyata aplikasi dari kerja mereka untuk masyarakat sekitar sini? Huznudhon-ku, aku lah yang tidak tahu, bukan benar-benar mereka tidak mempunyai aplikasi nyata program kerja mereka ke masyarakat.

Aku yakin mereka adalah orang-orang yang memiliki komunikasi baik, networking yang luas, program-program yang hebat untuk masyarakat (niatnya), dan keahlian serta keberuntungan lainnya. Paling tidak dilihat dari fisik mereka semua yang cukup "sehat", kita bisa menduga makanan-makanan yang mereka konsumsi. Dari merek sepatu dan kaosnya paling tidak ada satu mobil mewah di rumah mereka (nyambung nggak ya?). Kegiatan pagi itu, aku yakin mereka menamakannya sebagai "terjun langsung" ke masyarakat. Cukup dengan memutar-mutar kepala ke kanan dan kiri untuk memposisikan mata supaya terlihat mengamati. Padahal, jangankan untuk merasakan secara langsung apa yang sebenarnya dirasakan masyarakat, bertanya basa-basi pun tidak. Hanya memasang wajah bijak, tersenyum kesana-kemari (suudzon semua deh yang kutulis).

Berbeda kasusnya dengan hari sebelumnya ketika aku pergi ke salah satu kampung di sekitar kampus IPB Dramaga. Aku bertemu dengan seseorang yang sangat pantas aku sebut sebagai "social worker". Seorang ibu yang rela mendapatkan honor yang tidak sesuai atas tenaga dan waktu yang ia korbankan untuk memberikan ilmu kepada anak-anak usia dini di sekitarnya. Dia mengajar dari pagi hingga petang seorang diri di PAUD dan madrasah yang ia dirikan. Tidak adanya insentif yang sesuai membuat orang-orang enggan untuk menjadi tenaga pengajar disana. Dengan gaji yang kira-kira hanya 10% dari bapak-bapak gendut tadi si Ibu tetap tersenyum dan bersemangat. Dia mampu membimbing murid-muridnya yang dia namakan Laskar Pelangi dengan baik.


Sumber Gambar: eyeem.com


Pembangunan Indonesia secara keseluruhan tidak akan mengalami peningkatan yang berarti ketika kaum intelektual hanya bisa mencetak orang-orang seperti yang disebutkan diatas. Banyak bukti di negeri ini, orang-orang yang berpangku tangan dan menggerakkan mulut-mulut mereka untuk menelurkan konsep-konsep brilian. Konsep yang dilahirkan dari perdebatan panjang dan hanya berhasil diaplikasikan 30%nya saja. Atau ada juga orang-orang yang seolah-olah ringan tangan tapi pikiran mereka tertuju pada "keuntungan" pribadi. Kemampuan komunikasi yang bagus mereka manfaatkan untuk memanipulasi pola pikir orang disekitarnya. Mereka pandai menempatkan posisi sebagai orang yang dikagumi karena tindakan-tindakannya tanpa ada yang tahu pikirannya sedang berorientasi pada "nilai-nilai" lain.

Apa yang salah? Sampai kapan ketimpangan distribusi pendapatan akan terus terjadi di negara kita? Apa kurva pendapatan Indonesia memang tidak mungkin untuk mendekati bentuk sempurna garis diagonal pada kurva Lorenz?

Jawabannya ada pada kita kawan, pada pola pikir dan tujuan yang telah kita tetapkan untuk membangun negeri ini. Atau jangan-jangan kalian salah satu orang yang tidak peduli dengan nasib pembangunan negeri ini dan mengatakan "biarlah, masih banyak orang-orang yang lebih berkompeten di luar sana untuk mengaturnya." Kuharap tidak, kuharap kalian tidak lupa nasib baik kalian dibanding ribuan lulusan SLTA lain yang tidak bisa melanjutkan pendidikannya di PTN.

Sekarang bertanyalah pada diri kita. Ketika kita mengikuti sebuah organisasi, kompetisi, menulis, membaca, seminar, dan kegiatan-kegiatan sarat pengetahuan lainnya, apa sih tujuan kita? Pasti tidak sedikit yang menjawab untuk menambah pengalaman, meningkatkan kompetensi diri, menambah networking, dll. Salah? Tidak! Tapi cobalah geser sedikit tujuan itu. Kepala-kepala yang tidak lebih beruntung dari kita sedang menunggu dedikasi kita. Kebiasaan ini akan terus berlanjut sampai kita menempati posisi-posisi penting nantinya. Ataupun ketika kita hanya sebagai warga negara biasa. Otak kita akan secara otomatis memikirkan kepentingan kita sendiri. Dan hasil paling mencolok yang dapat kita lihat adalah ketimpangan pendapatan kita dan mereka. "Yang kaya makin kaya yang miskin makin miskin", tidak ada yang salah nampaknya dengan lagu itu. Kompetensi dan pengetahuan kita yang terus meningkat membuat akses kita lebih mudah ke berbagai bidang. Sementara orang yang tidak seberuntung kita tidak pernah kita jadikan sebagai "purpose" utama untuk melakukan "power-sharing". Mereka hanya kita posisikan sebagai "penerima bantuan". Jika benar akan seperti ini sepertinya masalah negeri kita akan tetap stagnan pada ketimpangan distribusi pendapatan.

Kita yang tahu yang harus mulai merubahnya, memberi tahu mereka yang belum tahu agar juga 'mau tahu'. Utamakanlah tujuan-tujuan mulia untuk membangun negeri ini, sudah terlalu banyak nikmat Tuhan yang kita enyam, saatnya untuk berbagi.