Wednesday, 13 November 2013

Mbah, Maaf Aku Tidak Pulang


Pukul 2.07, satu jam lalu beliau pergi menghadap Allah. Dan mataku tidak berhenti menangis sampai sekarang karena aku tidak tahu apalagi yang harus kulakukan. Aku ingin pulang! Satu-satunya alasanku untuk pulang ke rumah liburan ini hanya beliau, selebihnya tidak ada yang membuatku ingin pulang. Kalau ada orang yang sangat berjasa dengan adanya aku disini, maka itu beliau. Demi Allah kalian harus ikut mendoakan beliau kawan. Harus. Aku mohon doakan beliau.

Walaupun aku hanya mendengar dari cerita-cerita yang aku sendiri tidak langsung melihatnya, kasih sayangnya sudah sangat besar saat aku dan mungkin cucu-cucu lainnya masih di dalam kandungan. Seorang perempuan buta huruf yang punya kemampuan menghitung luar biasa. Seorang perempuan yang hebat. Mbah putri. Sedih mendengar ceritanya yang dulu dilarang bersekolah. Sedih mendengar keinginannya untuk bisa membaca tidak terwujud. Sedih mendengar penyesalannya tidak bisa mengenyam bangku pendidikan yang aku duduki dengan nyaman sekarang.

Saat ekonomi keluargaku jatuh dengan beban biaya SMA-ku yang luar biasa, Mbah yang mengajukan diri menanggung uang sakuku dengan banyak tantangan. Mbah tetap kekeuh karena mungkin menanggap aku patut diperjuangkan. Entah apa jadinya kalau waktu itu Mbah tidak membantu, mungkin aku sudah berhenti sekolah dan mustahil aku ada disini sekarang. Itu hal paling berharga yang akan terus aku ingat dalam hidupku. Aku hanya baru bisa membuktikan satu hal untukmu Mbah, bahwa aku tidak butuh uang sepeserpun untuk kuliah dengan mendapatkan beasiswa ini. Aku belum mampu memberikan bukti yang lainnya. 


Sumber Gambar: wikimedia.org

Aku akan melakukan banyak hal atas namamu Mbah. Jangan sedih lagi karena Engkau tak bisa membaca. Jangan sedih lagi karena Engkau tidak mengenyam bangku pendidikan. Aku akan membaca banyak buku atas namamu. Aku akan belajar banyak hal atas namamu. Aku akan menempuh pendidikan setinggi mungkin atas namamu. Aku akan melakukan banyak hal atas namamu Mbah.

Jika aku harus menyebutkan kebaikanmu satu-persatu mungkin tinta-tinta ini tidak akan mampu menuliskannya. Entah siapa lagi yang masih mau repot menyisakan jajanan lebaran untuk oleh-oleh cucunya saat kembali ke perantauan. Entah siapa lagi yang mengingat “weton” anak dan cucu-cucumu. Entah siapa lagi yang akan memanggilku dengan “Faerah”? Entah siapa lagi yang akan menanyakan bagaimana kuliahku? Makanku di Bogor? Uang jajanku di bogor? Entah siapa lagi.

Mbah, aku belum bisa membuktikan apapun lagi, apalagi memberimu sesuatu. Sungguh tidak ada harganya dibandingkan pemberianmu. Di hari duka ini saja aku tidak berani untuk nekat pulang sendiri. Aku hanya bisa menyebut namamu dalam setiap doaku. Menangis mengingatmu, membayangkan waktu terakhir kali aku melihatmu. Masih teringat jelas kalimat terakhirmu untukku, kau menanyakan apa aku sudah dapat uang saku lebaranku. Kau selalu mengingat hal-hal kecil ini.

Terimakasih Mbah sudah bangga padaku. Terimakasih sudah menyayangiku. Terimakasih sudah membantu banyak hal. Maaf aku dulu kadang malas pergi ke rumah sakit menjengukmu ketika kau ada disana. Maaf aku tak pandai merawatmu seperti cucu-cucu yang lain. Maaf tangan-tanganku kecil sehingga tidak enak untuk memijat punggungmu yang lelah. Maaf kalau aku pernah berbuat salah Mbah. Maaf hari ini aku tidak bisa mencium tanganmu untuk terakhir kalinya. Maaf hari ini aku tidak pulang. Maaf hari ini aku tidak pulang. Maaf hari ini aku tidak pulang. Maaf hari ini aku tidak pulang. Maaf hari ini aku tidak pulang. Maaf Mbah.

Ya Allah semua yang dari-Mu pasti kembali pada-Mu. Terimalah beliau disisi-Mu Ya Rabb. Ampunilah dosa-dosa semasa hidupnya. Terimalah semua amal kebaikannya. Jangan halangi pahala kebaikannya untuknya. Berikan rahmat-Mu dan sejahterakanlah beliau. Luaskanlah tempatnya disisi-Mu. Allahumaghfirlahaa warhamhaa wa’aafihaa wa’fuanhaa. Allahumma laa tahrimnaa ajrohaa walaa taftinnaa ba’dahaa waghfirlanaa walahaa.


Selasa, 15 Januari 2013