Wednesday, 13 November 2013

Kenapa Tidak Ada "Hari Festival Budaya Indonesia" ?



Indonesia Mencari Bakat hanyalah salah satu ajang pencarian bakat yang sedang ramai menghiasi layar kaca negeri ini. Acara ini sedikit berbeda karena tidak berfokus pada bakat menyanyi saja, namun bakat apapun bisa ditampilkan di acara ini. Salah satu peserta grand final IMB 3 adalah Sandrina dengan bakat menari yang dinilai luar biasa untuk anak seusianya. Dia mampu menarikan berbagai tarian daerah di Indonesia, tarian india, maupun tarian modern. Penampilan Sandrina juga membawa berkah untuk dunia tari Indonesia.

Banyak komunitas tari dari berbagai daerah diundang untuk tampil bersama Sandrina. Begitu pula dengan seniman dunia tari yang ikut memberikan sumbangsih di acara ini. Rating budaya tari naik, semakin banyak masyarakat yang tersadar bahwa tarian Indonesia tidak kalah bahkan jauh lebih indah dibandingkan dengan tarian-tarian boy band dan girlband yang sekarang sedang marak digandrungi generasi muda.Bakat Sanrina berpendar di tengah gelapnya ekistensi budaya daerah Indonesia yang sedang ditinggalkan penghuninya untuk melancongi budaya lain. 

Sumber Gambar: youtube.com

Apakah masyarakat benar-benar sudah lupa dengan budaya daerahnya? 
Apakah budaya daerah kita memang kunno?
Ataukah budaya daerah yang terlalu sulit untuk "diakses". 

Kita lihat ke belakang saat batik-batik kita hanya digunakan sebagai jarik untuk kaum tua atau hanya untuk membungkus jenazah dan peti mati. Masyarakat gengsi untuk menggunakannya karena terkesan sangat resmi dan kuno. Model-modelnya pun tidak menarik dan terkesan "jadul" (jaman dulu). Tapi sekarang, apa yang terjadi? Batik sudah mendunia dengan berbagai model. Mulai dari baju sampai aksesoris sekelas jepit rambut bisa kita temui yang mempunyai motif batik. Kok bisa? jawabannya adalah promosi secara global yang serempak dilakukan oleh pemerintah, public figure, dan masyarakat yang membuat batik menjadi tren mode. 

Lalu, apakah hanya batik yang bisa seperti itu? Apakah budaya lainnya tidak?
Kita belum mencobanya! 

Selama ini festival budaya digelar untuk menyambut tamu negara atau lainnya yang digelar di daerah-daerah tertentu pada waktu yang berbeda-beda. Tidak semua daerah juga memiliki hari festival budaya. Tidak ada satu hari khusus untuk mengadakan festival budaya Indonesia secara serempak di seluruh pelosok negeri. Seandainya hari festival budaya ini ada, bagaimana gambarannya? 

Setiap daerah, mungkin setingkat kabupaten, menggelar sebuah acara besar yang menggelar budaya-budaya di daerah tersebut. Tidak hanya tarian, tapi termasuk musik, sastra, busana, dan semua hal yang berkaitan dengan budaya asli daerah tersebut. Hari itu dijadikan hari libur nasional agar seluruh warga dapat menikmati dan memeriahkan festival. Pementasan bisa di bagi-bagi dalam beberapa tempat di daerah tersebut. Warga diharuskan untuk berpartisipasi dengan menggunakan pakaian daerah asli. Bayangkan kalau hal ini diterapkan? Setiap warga negara Indonesia akan memiliki pakaian adatnya masing-masing. Hal ini pastinya akan menghasilkan kreativitas yang luar biasa di dunia fashion.Misalnya kebaya modifikasi untuk perempuan yang sudah mengenakan jilbab. 

Selain berpartisipasi dari segi penampilan warga juga disediakan tempat untuk mencari rezeki di bazar-bazar yang diatur oleh panitia, dalam hal ini pemerintah sebagai koordinatornya. Bazar tersebut berisi makanan khas daerah, kerajinan tangan khas daerah, pameran hasil karya generasi muda setempat , dan sebagainya. Wah, pasti sangat seru dan bermanfaat, karya anak bangsa akan mendapatkan apresiasi penuh. Semua warga mempunyai hak yang sama. Jika luas tempat untuk bazar menjadi masalah karena tidak bisa menampung seluruh hasil karya dan kreativitas warga, mereka bisa menggunakan rumah mereka sebagai tempat pameran dan menginformasikannya dengan membuat plang di depan rumah atau semacamnya. Teknisnya mungkin seperti saling berkunjung saat hari raya idul fitri. 

Saat perayaan festival tidak boleh ada kendaraan pribadi yang melintas di jalur dan area tertentu untuk menghindari kemacetan. Semua harus menggunakan transportasi umum atau berjalan kaki. Pastinya polusi dan penggunaan BBM akan berkurang juga kan? 

Lalu bagaimana dengan aktivitas di kantor dan tempat-tempat lainnya? Jawabannya seperti saat libur hari besar lainnya saja. 

Hari Festival Budaya Indonesia = hari-hari besar lainnya, bisakah? 

HARUS BISA! Fenomena pupusnya budaya negeri ini satu-persatu adalah bukti nyata tanda-tanda kepunahan budaya kita. Apakah kita akan membiarkannya? Atau nanti saja saat budaya tersebut sudah mulai diakui bangsa tetangga baru kita ramai-ramai berkicau di media massa? Generasi muda yang seharusnya menjadi pewaris justru sedang tergila-gila dengan budaya modern tanpa mempedulikan budayanya sendiri. Tidak murni menjadi salah mereka, anak muda memang suka akan "tren" dan budaya kita memang tidak dijadikan "tren" oleh masyarakat luas. 

Pertanyaan selanjutnya, apa pemerintah mampu mengatur dan mewujudkannya? Kenapa tidak? Bukankah anggaran untuk kenyamanan kerja mereka sudah cukup besar? Eksistensi budaya negeri ini seharusnya menjadi prioritas utama mereka sebagai bukti rasa cinta tanah air dan kemampuan menjadi wakil masyarakat. 

Satu hal yang juga penting untuk dijadikan catatan bahwa bukan berarti kita tidak boleh mempelajari budaya luar. Fokusnya adalah jangan melupakan budaya sendiri dan lestarikanlah! Kalau bukan kita siapa lagi?


Senin, 15 April 2013 (12:19 AM)