Wednesday, 13 November 2013

Kamu NU Apa Muhammadiyah Sih?



“Eh kamu N apa bukan sih? Kok nggak pernah kumpul-kumpul lagi?”

Aku Islam, tentu saja aku Islam. Kalau ditanya Islam apa, aku akan balik bertanya memang Islam ada berapa? hehe. Aku dilahirkan, dibesarkan dan dimasukkan ke pesantren dengan aliran “N”. Tentu saja tata cara beribadah yang nempel di pikiranku adalah cara beribadah “N”. Aku ingat salah satu ustadzah mengatakan kalau kita tidak ikut salah satu golongan, kita tidak akan punya imam di padang mahsyar nanti. Entah benar atau tidak. Selain itu katanya hanya satu dari sekian banyak kelompok-kelompok Islam yang benar yaitu Ahlusunnahwaljama’ah, tapi kenyataannya semua kelompok mengatakan mereka Ahlusunnah. 


Sumber Gambar: pwmu.com

Ibuku berasal dari keluarga yang mayoritasnya adalah kelompok “M”. Cukup fanatik. Jadi sedikit banyak aku tahu ajaran “M” dari ibu dan buku-buku yang diberikan pamanku untuk ibu. Bapak juga bukan orang “N” yang sangat fanatik, justru aku diarahkan untuk berpikir kritis. Aku mendapat penjelasan kenapa “N” seperti ini sedangkan “M” seperti itu lalu aku disuruh memilih.

Semakin banyak aku belajar, aku memutuskan tidak fanatik ke salah satu dari dua kelompok besar ini. Apa yang baik akan tetap aku lakukan selama aku tahu tujuan dan dasar aku melakukannya. Amalan-amalan yang diharamkan oleh “M” beberapa diantaranya tetap aku lakukan dengan dasar yang aku yakini. Namun aku tidak mengamalkan semua amalan “N” jika aku tidak yakin dengan dasarnya. Aku tahu sebab-sebab itu dilarang dan aku juga tahu sebab-sebab itu diperbolehkan. Jadi aku mengambil celah-celahnya saja. Jika itu baik kenapa tidak dilakukan?

Intinya aku tidak ingin fanatik, makanya aku tidak mengikuti organisasi dua kelompok ini. aku tidak suka dengan suasana merasa paling benar dan suka sekali melemahkan dan menyalahkan kelompok lain. Toh, dua kelompok besar ini mempunyai alasan-alasan yang kuat untuk argumen mereka.

Aku beriman kepada Allah, Malaikat-Nya, Kitab-Nya, Rasul-Nya, Hari Kiamat, dan Qodo & Qodar. Keilmuanku di pesantren selama tiga tahun tidak mampu menunjang pola berpikirku untuk masalah ini. so aku lebih memilih untuk melakukan apa yang kuanggap benar berdasarkan Al-Qur’an, Hadist dan pemahaman yang aku ketahui sampai saat ini saja. Pastinya aku akan terus belajar untuk pemahaman yang lebih.



8:42:00 AM