Wednesday, 13 November 2013

Anak Ilmu Sosial Nggak Lebih Nyantai dari Anak Eksak!

Tulisan ini ringan saja. Intinya hanya ingin menekankan kami yang berada di departemen ilmu-ilmu sosial tidak hanya bersantai-ria dan sama-sama mempunyai beban perkuliahan. Keilmuan kami bukan hanya pajangan yang tidak aplikatif. Mata kuliah yang kami pelajari tidak dengan mudahnya melukis nilai A hasil Sistem Kebut Semalam (SKS). Departemen kami tidak memiliki mahasiswa pandai yang tidak pernah kuliah dan belajar. Itu mimpi saja. Kami sama juga seperti kalian yang ada di eksak, butuh belajar, mempunyai tugas, harus kuliah, dan bisa bekerja nantinya (aplikatif). 

Seandainya benar departemen kami tidak penting, sampingan, bahkan ada yang dengan ‘tega’ menyebutnya ‘buangan’ itu artinya lebih bodoh lagi para doktor, profesor, dan entah apalagi jabatan penting yang mendukung didirikannya departemen ini. Semua hal yang ada di dunia ini PASTI punya alasan. Tidak pernah tidak. Ini mutlak.

Sedikit sakit hati ketika kami selalu dianggap lebih atau bahkan paling rendah. Baik dari segi kualitas maupun kapabilitas. ‘Kaum’ yang tidak punya tugas, atau punya tapi bisa dikerjakan lima menit tanpa berpikir sambil menutup mata pula. Tidak ada tuntutan. Kuliah santai, hidup nyaman. Dan masih sangat banyak ‘cacian’ lain yang tertujukan pada kami, mahasiswa departemen ilmu-ilmu sosial.

Departemen ilmu-ilmu sosial di universitas ternama ini memang minoritas. Hampir tidak punya praktikum di laboratorium. Praktikum, yang menurut departemen lain lebih mirip responsi biasa kami lakukan di kelas atau langsung turun ke lapangan. Tapi mahasiswa yang cerdas pasti akan dengan cepat paham BEDA PRAKTIKUM dengan RESPONSI. Dari akar katanya saja sudah jelas untuk menjabarkan definisinya. Tidak akan dibahas disini. Praktikum kami sama juga melibatkan fisik dan pikiran, hanya saja data yang kita hasilkan berbeda. Itu saja, tidak lebih. Data kami kualitatif dan kalian yang ada di eksak punya data kuantitatif, yang konon katanya lebih sulit dianalisa. Kata terakhir perlu digarisbawahi, analisa, kita sama-sama melakukannya. Hanya saja metode yang kita gunakan berbeda karena datanya juga berbeda.

Untuk masalah kuliah atau proses belajar kalian bilang materi kami banyak terdapat di buku-buku umum. Tersedia di toko buku terdekat, sudah macam obat warung saja. Sebenarnya materi kalian juga ada di buku-buku yang terjual ‘bebas’. Bisa saja itu dijual di toko-toko buku sebenarnya, hanya saja buku kalian TIDAK LAKU. Kenapa? tentu saja isinya tidak menarik dan tidak selalu menjadi penting untuk semua kalangan. Buku kami menarik dan penting untuk banyak orang. Walaupun tidak semua, paling tidak jumlahnya sedikit lebih banyak dari kalian. Pemilik toko buku bukan orang bodoh pastinya kalau mereka lebih banyak menempatkan buku-buku berbau ilmu-ilmu sosial dibandingkan eksakta. Mereka pastinya sudah mempertimbangkan banyak hal.


Sumber Gambar: reddit.com

Sebelum ujian kalian mengatakan kalian harus belajar keras dan diulang berkali-kali, sementara kami SKS sudah cukup untuk mendapatkan nilai minimal B. Minimal ada dua hal yang pasti kita lakukan dalam belajar : Menghafal dan Latihan. Nah, untuk menghafal kita sama-sama melakukannya. Bahkan terkadang hafalan kami lebih banyak dan panjang-panjang. Untuk yang kedua, latihan, kami memang tidak melakukannya lebih banyak dari kalian. Latihan kami hanya dengan memperbanyak baca. Sementara kalian mungkin membutuhkan beberapa kertas untuk tempat coret-coretan.

Tugas kami juga sama banyaknya, sekilas memang terlihat mudah karena dekat dengan kehidupan sehari-hari. Tapi coba saja kalian ambil semua mata kuliah kami. Mungkin lain cerita. Untuk menyelesaikan tugas dengan baik tentu saja tidak membutuhkan waktu yang sebentar. Hanya saja kami terkadang punya pilihan. Mau menyeesaikannya dengan usaha maksimal atau biasa saja. Jawaban kami sebenarnya juga tidak bisa dikarang karena kami punya konsep, teori yang harus dimasukkan. Namun memang sedikit benar kalau jawaban itu bisa dikarang dengan syarat ketika teori itu tidak dimasukkan. Kita sama-sama menghafal teori.

Adalagi orang bodoh yang mengatakan kami, anak departemen ilmu-ilmu sosial tidak melakukan penelitian. Ketahuan sekali pengetahuannya sangat sempit sampai definisi penelitian hanya dibatasi oleh ruangan bernama laboratorium saja. Dan masih banyak lagi alasan yang diungkapkan untuk menjatuhkan ilmu-ilmu sosial dibawah eksak.

Jangan mengatakan ilmu-ilmu sosial itu gampang dipelajari, dan hanya ilmu sampingan saja. Banyak ahli eksak yang ahli ilmu-ilmu sosial juga, dan sebaliknya. Tidak ada yang pasti, misal orang yang sudah pintar eksak pasti pintar ilmu-ilmu sosial juga. Tidak juga. Semuanya kembali pada minat dan bakat masing-masing. Tidak ada yang sebenarnya atau sudah pasti lebih mudah. Semua kembali lagi ke orangnya. Ada yang dengan mudah melakukan hitungan dengan jutaan rumus dalam menit tapi ketika berbicara di depan melempem. Semua ilmu pasti berguna, untuk itulah ilmu diciptakan dan dipelajari. Masalah mudah atau tidak kembali pada orangnya.

Untuk kalian yang masih merendahkan atau menganggap lebih rendah ‘ilmu-ilmu sosial’ kita lihat sajalah nanti. Waktu yang akan menjawab.

Aku pernah melakukan kesalahan. Lebih memilih ilmu eksak dari pada ilmu-ilmu sosial untuk mempertahankan gengsi. Dan akibatnya aku terpenjara dalam batasan-batasan. Waktuku sia-sia untuk mempelajari hal-hal yang tidak penting menurutku. Walaupun nilaiku bagus-bagus (artinya aku bisa eksak dan menyelesaikannya dengan baik). Bukan karena ilmu eksak benar-benar tidak penting bukan? Tapi karena minat dan bakatku memang di ilmu ilmu-ilmu sosial. Dan aku tidak akan mengulang kesalahan ini dua kali. Ini duniaku. Jadilah raja di negeri kalian sendiri dan tidak ada negeri yang mampu hidup sendiri tanpa bantuan negeri lain. 


Jumat, 07 Desember 2012 8:56:00 AM