Wednesday, 13 November 2013

Difusi Budaya “Seksi”

Angka kasus pelecehan seksual terus meningkat. Bahkan baru-baru ini lima bocah Sekolah Dasar tega melakukan hal tersebut pada rekan perempuannya. Tentu saja ini sangat memprihatinkan, mengingat usia pelaku dan korban masih terbilang anak-anak. Kasus serupa hampir setiap hari menghiasi pemberitaan media dengan beragam usia pelaku dan korban. Sudah menjadi rahasia umum bahwa pornografi dan pornoaksi masih menjadi tersangkautama permasalahan ini.

Sumber Gambar: bbc.com

Gambar dan video porno memang sangat mudah diakses oleh berbagai jenis umur pada era digital ini.  Keyword apapun nampaknya tidak menjadi bumerang untuk menemukan situs-situs tersebut. Bahkan link-nya terpampang dengan mudah tanpa harus dicari. Usaha yang dilakukan pemerintah untuk menghambat peredaran situs porno masih belum mampu membendung bocornya keran-keran tersebut. Setiap hari justru jumlahnya kian bertambah tanpa legalisasi.

Jangankan yang berbau ilegal seperti itu, media yang sudah lulus sensor pun banyak mempertontonkan hal-hal yang mengarah pada pornografi. Misalnya saja sinetron yang mempertontonkan penggunaan rok sekolah diatas lutut, bisa dipastikan panjang rok tersebut tidak sesuai dengan peraturan sekolah. Tidak hanya murid saja, guru dalam sinetron yang berperan sebagai panutan juga menggunakan rok dengan karakteristik serupa. Selain itu adegan pelukan dan ciuman juga semakin berani dipertontonkan. Gambaran ini tentu saja terekam dengan sangat baik oleh pemirsa terutama anak-anak. Banyak media cetak juga melakukan hal serupa dengan menampilkan foto-foto terutama perempuan yang menonjolkan bagian tubuh tertentu.

Tidak sedikit kalangan artis yang gaya hidupnya ditiru oleh pemirsa sebagai public figure, juga seolah-olah melegalkan hal tersebut. Mereka cenderung lebih suka menggunakan pakaian-pakaian yang seksi dan menonjolkan bagian tubuh tertentu saat tampil di televisi dengan mengatasnamakan seni. Seksi yang dimaksud disini adalah hal-hal yang mengarah pada sifat-sifat seksual. Tidak hanya pada acara-acara hiburan saja, acara-acara resmi pun sudah mulai terambah gaya fashion ini. 

Jika seksi dinilai sebagai seni maka bersiaplah untuk menerimanya sebagai budaya. Perkembangan tren seksi sebagai pilihan gaya hidup yang modern dan kece merupakan difusi yang berlangsung cepat. Mungkin saja kualitas panggung sandiwara dalam melayani masyarakat akan menurun jika tidak memasukkan unsur ini. Bahkan mungkin suatu saat pelecehan seksual juga akan dilegalkan menjadi sebuah seni yang akan membudaya.

Tidak bisa dibantah bahwa tren seksi berhasil dipromosikan dengan baik oleh media melalui pelaku-pelakunya. Bukti nyata dapat kita lihat pada gaya hidup masyarakat saat ini. Tren celana pendek yang jauh di atas lutut sudah sangat populer digunakan di tempat-tempat umum. Baju-baju terawang dengan enjoy dapat digunakan untuk mengikuti kuliah dengan alasan tren. Semua Fashion yang serba mini dan terawang telah menjadi tren fashion yang berhasil dilegalkan. Ciuman dan berpelukan yang sudah tidak dilakukan sembunyi-sembunyi lagi juga sudah menjadi panutan yang diobral untuk ditangkap oleh semua kategori khalayak termasuk anak-anak.

Hukum perundang-undangan dan peraturan yang telah kita miliki sebenarnya lebih dari cukup untuk menjaga moralitas bangsa. Namun implemetasinya sangat buruk karena dilanggar secara berjamaah. Usaha terbaik adalah memulainya dari diri sendiri dan kemudian mengingatkan orang lain serta terus berpartisipasi untuk mengontrol media dan lingkungan sekitar berkaitan dengan isu-isu yang berhubungan dengan pelecehan seksual.