Wednesday, 13 November 2013

Analisis Peran Perempuan Jawa pada Tari Bondan

Sumber Gambar: negerikuindonesia.com

Kenalkah kalian dengan Tari Bondan? Atau pernahkah mendengar nama tarian ini? Sebagai generasi muda yang katanya gaul dan kece pasti kalian tidak mengenalnya bukan? Kalian mungkin lebih familiar ketika diperlihatkan sebuah video gerakan Gangnam Style atau dance lainnya. Kalau kalian penasaran dengan tari bondan, kalian bisa menikmatinya di youtube dengan keyword "tari bondan".

Tari Bondan adalah tarian yang berasal dari Surakarta, Jawa Tengah. Tari Bondan terbagi menjadi 3, yaitu : 

1. Bondan Cindogo 
2. Bondan Mardisiwi 
3. Bondan Pegunungan/Tani. 

Kostum yang digunakan oleh penari Bondan adalah kain yang diwiron, jamang, baju kotang dan aksesoris tari lainnya. Sedangkan peralatan yang dibawa adalah boneka yang merepresentasikan seorang anak, payung, kendhi, dan adapula yang dilengkapi caping, tenggok, serta alat pertanian, bergantung pada jenis tarian bondan-nya.

Tari ini konon sempat nge-trend di tahun 1960-an dan wajib dibawakan oleh gadis-gadis cantik untuk menunjukkan jati dirinya. Tapi sekarang ini, sedikit sekali generasi muda yang mengenalnya. Kita cenderung lebih suka dengan tari-tari modern ala Korea ataupun negara asing lainnya. Tarian daerah sudah dianggap kuno dan terlalu lemes untuk tubuh kita yang katanya energik. Tapi benarkah? Atau sebenarnya tarian daerah juga mempunyai manfaat untuk tubuh kita?

Terlepas dari itu, gerakan tari Bondan menggambarkan aktifitas perempuan desa sehari-hari yang sangat kompleks. Penari menggendong boneka (bayi) dan membawa payung terbuka dan atau menggendong tenggok di punggungnya. Gerakan puncak tarian ini adalah saat penari masih dengan beban yang telah disebutkan diatas dan dia harus naik ke atas kendhi, memutarnya beberapa kali putaran tanpa boleh ada yang pecah sedikitpun, hanya dengan menggunakan kaki. Gerakan ini menunjukkan begitu banyaknya tugas yang diemban oleh perempuan Jawa pada masa itu dan sulitnya perempuan dalam melaksanakan tugasnya.

Peralatan yang dipakai oleh penari juga menggambarkan bahwa perempuan Jawa pada masa itu telah dituntut untuk melakukan kerja produktif dan reproduktif. Kerja reproduktif direpresentasikan dengan boneka, payung dan kendhi. Menggendong boneka menunjukkan tugas perempuan untuk mengurus anak. Sedangkan payung yang terbuka dimaksudkan sebagai pelindung untuk anak tersebut (melindungi anak, bahkan bisa juga diartikan melindungi keluarga. Penjabaran yang lebih luas mengenai payung yang terbuka mungkin bisa terwakili oleh kata "kesejahteraan". Sedangkan kendhi melambangkan urusan dapur atau rumah tangga yang juga harus diurus oleh perempuan.

Kerja reproduktif ditunjukkan dengan bawaan penari berupa tenggok yang melambangkan bahwa mereka ikut serta dalam proses produksi pertanian. Walaupun tarian ini tidak menceritakan pihak suami (laki-laki) tapi tersirat bahwa kerja produktif laki-laki masih dibantu oleh perempuan sedangkan kerja reproduktif perempuan tidak dibantu oleh laki-laki. Hal ini dibuktikan dengan begitu kompleksnya aktivitas yang dilakukan perempuan dalam satu waktu saat gerakan puncak. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perempuan Jawa pada masa itu mempunyai peran ganda yaitu melakukan pekerjaan produktif dan reproduktif serta mempunyai beban kerja yang sangat tinggi.

Kajian ini akan menjadi sangat menarik ketika kita bisa mendapatkan referensi yang valid mengenai filosofi tari Bondan. Kita dapat membandingkan dan menganalisis perkembangan peran perempuan Jawa dulu dan sekarang, serta lebih lanjut dapat mengkaji faktor-faktor penyebab perkembangan tersebut. Pastinya akan ada banyak hal pengetahuan yang dapat kita ambil dengan mempelajarinya. 

Tulisan ini ditulis dengan referensi yang sangat minim dari pengalaman penulis sendiri saat mengikuti sanggar tari (waktu SD) dan informasi tambahan dari internet yang belum jelas sumber pustakanya.

Tari Bondan dan tarian Indonesia lainnya seharusnya bisa menjadi salah satu sumber sejarah dan acuan analisis perkembangan kehidupan masyarakat Indonesia dari masa ke masa. Gerakan-gerakan tari menggambarkan aktivitas-aktivitas masyarakat pada masa tertentu yang menunjukkan norma serta nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat pada masa itu. Pola-pola dari sejarah yang kita pelajari dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan untuk menentukan langkah-langkah penyelesaian masalah kekinian yang sangat kompleks. Pembelajaran ini juga akan semakin memperkaya budaya bangsa dan meningkatkan kecintaan masyarakat Indonesia terhadap budayanya.