Wednesday, 13 November 2013

Analisis Pengaruh Konversi Lahan Terhadap Krisis Ekologi di Wilayah Sekitar Kampus IPB Dramaga


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Konversi lahan merupakan isu yang telah ada sejak lama di Indonesia. Salah satu dampak yang dapat dilihat adalah menurunnya kualitas lingkungan. Saat ini, dengan berkembangnya kekhawatiran atas perubahan iklim, riwayat konversi lahan Indonesia mendapat sorotan publik. Konversi lahan terutama pada lahan kering banyak terjadi untuk mengakomodasi kebutuhan perumahan, industri dan jasa. Kondisi ini umumnya terjadi di wilayah peri-urban.
Desa dan kelurahan di sekitar kampus IPB Dramaga merupakan satu komunitas yang dulunya bertumpu pada sektor pertanian. Namun, dengan semakin banyaknya jumlah mahasiswa di kampus IPB Dramaga, kebutuhan akan tempat kost juga semakin meningkat. Masyarakat luas melihat hal ini sebagai potensi ekonomi yang besar. Kondisi pemukiman semakin sempit, jarak antar rumah hampir tidak ada lagi. Rumah yang mempunyai halaman sudah sangat sulit untuk ditemukan. Ruang Terbuka Hijau (RTH) beralih fungsi menjadi rumah makan, tempat parkir, pertokoan, dan lain sebagainya.
Aktivitas pembangunan dan pertambahan penduduk memang menyebabkan kebutuhan terhadap lahan meningkat, sementara itu ketersediaan dan luas lahan pada dasarnya tidak berubah. Sumberdaya lahan memiliki ketidakseimbangan antara penawaran dan permintaan. Penawaran lahan relatif terbatas sedangkan permintaannya tak terbatas, sehingga penggunaan sumberdaya lahan akan mengarah kepada penggunaan yang dapat memberikan manfaat secara ekonomi lebih besar bagi pemiliknya.
Perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi pemukiman maupun industri merupakan hal yang lazim. Dinamika yang terjadi pada masyarakat yang meliputi perkembangan penduduk dan pola pembangunan wilayah menyebabkan alih fungsi lahan tidak dapat dihindari. Alih fungsi lahan diperlukan dalam rangka pelaksanaan pembangunan, akan tetapi pelaksanaannya harus tetap dikendalikan demi keberlanjutan pemanfaatan lahan dan keseimbangan lingkungan pada masa yang akan datang.

Sumber Gambar:pikiran-rakyat.com

Perumusan Masalah

Konversi lahan pertanian pada umumnya dipicu oleh transformasi struktur ekonomi yang semula bertumpu pada sektor pertanian menjadi sektor ekonomi yang lebih bersifat industrial, khususnya di negara-negara yang sedang berkembang. Transformasi ekonomi pada kasus ini mengakibatkan penurunan carrying capacity di wilayah tersebut. Populasi penghuni wilayah sekitar kampus IPB Dramaga yang semakin banyak membuat pemukiman semakin padat dan mengurangi jumlah RTH. Hal ini tentu saja berpengaruh pada kondisi lingkungan sekitar. Untuk itu perlu dikaji lebih lanjut bagaimana pengaruh konversi lahan di wilayah sekitar kampus IPB Dramaga, khususnya terhadap krisis ekologi di wilayah tersebut.

Tujuan dan Urgensi Penelitian

            Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengaruh konversi lahan di wilayah sekitar kampus IPB Dramaga terhadap krisis ekologi di wilayah tersebut. Konversi lahan tersebut mempunyai dampak lingkungan yang sangat besar. Proporsi antara penduduk asli dengan mahasiswa sebagai pendatang hampir lebih banyak mahasiswa yang notabene hanya tinggal sementara di  wilayah tersebut. Selain menurunkan carrying capacity, konversi lahan yang terjadi juga menurunkan produktifitas lahan. Tidak ada lagi pangan dan sumbangan oksegen yang dihasilkan. Jarang sekali ditemukan tanah-tanah kosong di sekitar pemukiman yang dapat digunakan untuk menanam pepohonan. Hal ini menyebabkan cuaca di wilayah tersebut semakin panas. Pemanfaatan lahan untuk sarana ekonomi juga menuntut manajemen pengeolaan lingkungan yang lebih baik. Sampah menjadi salah satu faktor penyebab banjir karena tidak adanya manajemen pengelolaan sampah yang baik.
   

TINJAUAN PUSTAKA

Pendekatan Teoritis

Krisis ekologi ditandai oleh fakta-fakta sebagai berikut :
1.    Penurunan Carrying Capacity suatu Kawasan tidak layak dimanfaatkan sebagai habitat.
2.    Terjadi Over Population Penduduk dunia berjumlah 6 Miliar masalah ketidakcukupan pangan, kekurangan sandang, ketidakpantasan papan-pemukiman, kekurangan air bersih.
3.    Penurunan Kualitas Lingkungan - Environmental Degradation polusi udara, polusi suara, polusi air, jangkitan penyakit.
Krisis ekologi dapat terjadi di berbagai jenis wilayah baik hutan, perkebunan, sawah dan lain sebagainya. Pada ekologi sawah kita dapat mengambil contoh kasus konversi lahan. Konversi lahan disebabkan oleh transformasi struktur agraria  yang mengakibatkan terjadinya landlessness. Pengangguran merupakan salah satu produk akhir dari fenomena ini. Hal ini kemudian menyebabkan desakan untuk berpindah ke sistem ekologi lain karena lahan produktif terus berkurang. Lahan yang terkonversi harus diganti dengan lahan yang memiliki produktivitas sama. Jika hal ini tidak bisa dicapai maka petani cenderung akan menjadi buruh tani di tempat lain atau beralih pekerjaan.
Sementara itu krisis ekologi di daerah perkotaan dapat dicontohkan dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang semakin berkurang dan permukiman kumuh yang meningkat. Tekanan Penduduk terhadap lingkungan semakin tinggi. Indikatornya dapat dilihat dari krisis energi (harga BBM terus meningkat) dan krisis pangan (impor pangan meningkat). RTH beralih fungsi menjadi areal komersil (SPBU, Parkir, Kantin, dll). Kota dengan penghuni yang semakin banyak tidak mampu lagi menampung dan mengorganisasikan warganya dengan baik sehingga munculah kantong-kantong kemiskinan. Pertumbuhan penduduk menyebabkan perebutan sumberdaya sehingga kawasan penyangga difungsikan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi.

Hasil Penelitian Sebelumnya

1.    Judul Penelitian : Kebijakan Pengendalian Konversi Lahan Pertanian  Dalam Rangka  Mempertahankan Ketahanan Pangan Nasional (Studi Kasus : Pulau Jawa)  Oleh : Nana Apriyana (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)
Alih fungsi lahan pertanian basah ke penggunaan lainnya dalam beberapa tahun ini sangat pesat terjadi dan ini sangat mengancam program ketahanan pangan nasional. Salah satunya dipercepat dengan ditetapkannya alih fungsi ini secara formal dan legal dalam dokumen Perda RTRW Kabupaten maupun Kota. Disisi lain juga data dan informasi mengenali luasan lahan pertanian basah (sawah) sangat beragam sehingga menyulitkan perencanaan dan pengambilan keputusan. Sebagai institusi perencanaan, Bappenas dalam mengambil peran antara lain: (a) Dalam BKPRN memberikan arahan tentang program ketahanan pangan yang perlu dipertahankan yang perlu diwujudkan dalam pencegahan secara agresif alih fungsi lahan dalam RTRW Kabupaten/kota. (b) Mengembangkan Pusdatin sebagai pusat informasi perencanaan pembangunan nasional dan daerah dengan memanfaatan UU SIG yang telah diterbitkan.
2.    Judul Penelitian : Analisis Dampak Konversi Lahan Pertanian Terhadap Produksi Padi Dan Land Rent (Kasus Perumahan Pakuan Regency, Bogor Barat, Kota Bogor) Oleh : Irvan Maulana Sadikin
Berdasarkan hasil penelitian, maka penulis dapat menarik beberapa kesimpulan sebagai berikut: (a) Faktor-faktor pendorong Pemerintah Kota Bogor mengeluarkan izin pembangunan pemukiman antara lain; (1) meningkatkan kualitas pemukiman yang telah ada; (2) memenuhi kebutuhan perumahan; (3) visi Kota Bogor sebagai kota pemukiman sebelum diubah menjadi kota jasa; dan (4) kontribusi terhadap PDRB. (b) Pembangunan perumahan Pakuan Regency dengan mengkonversi lahan pertanian telah menghilangkan akses air irigasi pada lahan pertanian bagian hilir aliran air irigasi. Jumlah produksi padi dari lahan yang terkonversi sebesar 392 ton Gabah Kering Giling (GKG) dan lahan yang terganggu aliran air irigasinya sebesar 22,4 ton GKG. Jumlah pendapatan yang hilang sebesar Rp. 1.141.760.000,00 per tahun. (c) Berdasarkan nilai riil, land rent pemukiman lebih besar 71,68 kali dibandingkan dengan land rent pertanian. Oleh karena itu, konversi lahan akan sangat sulit untuk dibatasi. (d) Variabel luas lahan dan biaya operasional berpengaruh negatif terhadap land rent pertanian dan variabel penerimaan berpengaruh positif. Sedangkan land rent pemukiman dipengaruhi secara negatif oleh variabel luas lahan, biaya operasional dan pajak, sedangkan variabel luas bangunan dan total penerimaan berpengaruh positif.

KERANGKA PEMIKIRAN

Populasi mahasiswa yang terus meningkat membutuhkan jumlah pemukiman yang semakin banyak pula. Sementara itu kondisi ahan yang terbatas mengakibatkkan perlunya konversi lahan untuk dapat memenuhi kebutuhan pemukiman mahasiswa. Hal ini berpengaruh pada kehidupan masyarakat di wilayah sekitar kampus IPB Dramaga, terutama pada carrying capacity, population dan environmentnya. Perubahan pada ketiga hal tersebut menyebabkan adanya krisis ekologi di wilayah sekitar kampus IPB Dramaga.
(Bagan tidak bisa ditampilkan)

METODE PENELITIAN

Pendekatan Penelitian
Penelitian ini dilakukan secara kualitatif yang didukung dengan data-data kuantitatif yang dimiliki lembaga setempat untuk memperkuat analisis. Tipe peneilitian ini adlah deskriptif yaitu menghimpun fakta tanpa melakukan uji hipotesa.

Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di wilayah sekitar kampus IPB Dramaga. Lokasi penelitian dipilih karena  wilayah ini merupakan wilayah yang lahannya terkonversi dan terkena pengaruh langsung dari hal tersebut. Pemilihan tempat penelitian ini diharapkan relevan dengan data yang ingin diperoleh dan tujuan penelitian. Pengumpulan data primer dan sekunder akan dilakukan pada bulan Agustus 2013 dan dilanjutkan dengan pengolahan data serta penulisan laporan yang akan dilakukan pada bulan September-Oktober 2013.

Teknik Pengumpulan Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kuantitatif diperoleh dari lembaga terkait mengenai fakta yang terjadi di lapangan, sedangkan data kualitatif diperoleh dengan mewawancarai informan. Berdasarkan sumbernya, data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer didapatkan dari pengumpulan data di lapangan dengan panduan pertanyaan. Sumber data primer adalah aparat desa, tookoh masyarakat, masyarakat, elite dan tokoh masyrakat luar desa. Sedangkan data sekunder didapatkan dari dokumentasi lembaga yang terkait dan studi literatur yang berhubungan dengan penelitian.
Subyek penelitian merupakan informan yang terpilih secara acak dari populasi masyarakat sekitar kampu IPB Dramaga untuk kemudian dilakukan wawancara secara mendalam. Selain itu juga dilakukan studi dokumen dal literatur terkait dengan permasalahan tersebut.
Analisis Data dan Informasi
Data yang telah didapatkan dianalisis menggunakan teori pada mata kuliah Kajian Agraria yang sesuai dengan topik yang diangkat yaitu mengenai Struktur Agraria dan Krisis Ekologi. Hasil wawancara mendalam dan studi literatur digabungkan untuk kemudian ditarik kesimpulannya.
 
LAMPIRAN

Panduan pertanyaan untuk masyarakat :
1.      Sejak kapan anda tinggal disini?
2.      Apa pekerjaan anda?
3.      Apakah anda mempunyai bisnis kost-an atau ikut berinvestasi?
4.      Apa yang anda rasakan dengan kehadiran mahasiswa di lingkungan anda?
5.      Apakah rumah anda mempunyai halaman?
6.      Berapa banyak pohon yang anda miliki di sekitar rumah?
7.      Apakah anda memiliki lahan pertanian?
8.      Berapa luas rumah anda?
9.      Berpa orang yang tinggal di rumah anda?
10.  Rumah anda memiliki berapa kamar?
11.  Berapa kapasitas satu kamar?
12.  Berapa ukuran kamar di rumah anda?
13.  Apakah anda pernah mengalami kesulitan untuk memperoleh pangan, sandang, dan papan (rumah)?
14.  Apakah anda pernah mengalami kesulitan air bersih?
15.  Apakah lingkungan anda bising?
16.  Apakah anda merasa terkena polusi udara?
17.  Apakah lingkungan anda menyebabkan munculnya penyakit tertentu?
Panduan pertanyaan untuk tokoh masyarakat :
1.      Berapa jumlah penduduk di wilayah ini?
2.      Berapa banyak jumlah mahasiswa yang tinggal di wilayah ini?
3.      Apa saja jenis pekerjaan warga di sekitar wilayah ini?
4.      Apakah setiap tanah sudah memiliki sertifikat yang resmi?
5.      Apakah ada kebijakan yang diterapkan untuk mengatur pembangunan gedung baru di wilayah ini?

DAFTAR PUSTAKA

Barus B,  Panuju DR, Iman LS , Trisasongko BH,  Gandasasmita K, Kusumo R. 2009. Pemetaan Potensi Konversi Lahan Sawah dalam Kaitan Lahan Pertanian Berkelanjutan dengan Analisis Spasial. Bogor [ID] : Institut Pertanian Bogor.
[BPPN] Badan Perencanaan Pembangunan Nasional. 2011. Kebijakan Pengendalian Konversi Lahan Pertanian dalam Rangka Mempertahankan Ketahanan Pangan Nasional  (Studi Kasus :Pulau Jawa).
Haryadi, Pulung. 2009. Analisis Kebijakan Lahan dan Ketahanan Pangan Terhadap Prioritas Pengembangan Kawasan Periurban Kabupaten Bantul. Jurnal Riset Daerah. VIII (1) : 1040-1059.
Sadikin, Irvan Maulana. 2009. Analisis Dampak Konversi Lahan Pertanian Terhadap Produksi Padi dan Land Rent (Kasus Perumahan Pakuan Regency, Bogor Barat, Kota Bogor). [skripsi]. Bogor [ID] : Institut Pertanian Bogor. 119 hal.
Subai, Agus. 2005. Pengaruh Konversi Lahan Terhadap Pola Nafkah Rumahtangga Petani. (Studi Kasus; Desa Batujajar, Kecamatan Cigudeg, Kabupaten Bogor). [skripsi]. Bogor [ID] : Institut Pertanian Bogor. 97 hal.