Sunday, 3 November 2019

Gelarnya Udah M.Sc. Kok Cuma di Rumah Saja?

Dulu awal-awal punya anak, aktivitas harian selalu membuat kepala pening, badan juga nggregesi. Rasanya persis ketika menjadi panitia acara nasional jaman mahasiswa. Persiapan sampai jam 3 pagi, acara jam 8, pagi itu juga, dan baru selesai membersihkan sisa acara malam harinya. Badan udah nggak jelas. Dan rasa itu  sekarang nggak cuma sehari. Melainkan nggak ada harapan untuk selesai, sudah 20 bulan ini.

Konsekuensi jadi ibu yang ngasuh sendiri, katanya. Nggak heran banyak ibu bekerja bilang, kalau kerja itu malah me-time. Dan ibu rumah tangga tanpa asisten nggak akan bisa me-time selama itu. Tapi aku juga nggak kebayang rasa sakitnya para ibu bekerja ketika harus berpisah dengan anak mereka dari pagi sampai sore. Pasti kangen kan walaupun ada senengnya bisa me-time?

Ibu rumah tangga 'bekerja' tanpa partner hampir seharian penuh. Look at my daily activities: masak (atau beli), nyuapin, nyuci piring, beres-beres, nyapu, mandiin, nyuci, njemur, kadang ngepel, nidurin, nyuapin lagi, angkat jemuran, lipat baju, mandiin lagi, nyuapin lagi, beres-beres lagi, cuci piring lagi, (SOUNDS LIKE PEMBANTU? YES!), kadang sebelum tidur atau paginya sudah ada cucian piring lagi! ART life~

Belum lagi ditambah momong 24 jam. Kenapa 24 jam? Karena telinga selalu terjaga untuk mendengar satu hal: tingkah bening, entah berupa suara atau gerak. Dalam semalam Bening masih terbangun sekitar dua kali, minta ganti popok karena dia anaknya risihan dan minta minum air putih plus menyusu.

Kadang aku berpikir, kenapa mau peran sehari-harinya cuma begitu, yang notabene bisa dikerjakan orang yang nggak sekolah. Dan kalau wanita diperistri tujuannya memang untuk tidak diberi akses bekerja, harusnya laki-laki cari saja gadis yang fisiknya bagus dan pintar mengurus rumah dan anak. Tidak perlu ada tambahan kriteria lain. Dan kalau orang bilang ini takdir wanita, maka pendidikan yang perlu wanita dapatkan cukup tentang mengurus rumah dan anak saja, tidak perlu lainnya. Itu pikiranku. Sayangnya kehidupan atau nasib tiap wanita nggal bisa sesederhana itu. Kehidupan tiap orang beda, tiap wanita beda.

Contohnya aku nih, kenapa nggak kerja lagi. Sederhana, nggak ada yang ngurus anak. Rumah nenek-neneknya jauh. Aku nggak mau nitip ke daycare/pengasuh yang nggak satu visi denganku. Visiku, anak harus punya karakter yang bagus dan kemampuannya maksimal. Kalau titip ke pengasuh, akan sulit menemukan pengasuh yang bisa menjalankan misi-misi pembelajaran yang ingin aku terapkan. Kalau di daycare, mungkin pengasuhannya lebih modern, tapi di sana banyak sekali anak dalam satu pengasuhan. Ini masalah tersendiri dan aku masih kurang sreg.

Kenapa nggak cari daycare atau pengasuh yang bagus banget, yang sudah teredukasi tentang perkembangan anak? Mahal! Suami pernah bilang kalau aku kerja ya bayarannya harus setimpal, maksudnya untuk menutupi biaya pengasuhan. Sementara di kasusku, gaji terakhirku masih di kisaran 4 jutaan, bekerja secara profesional baru dua tahunan pasca lulus S1 IPB. Akan butuh waktu lama untuk mencapai posisi yang bagus.

Sebagai lulusan S2 UGM yang cumlaude (padahal cumlaude nggak berkorelasi sama kesuksesan haha), potensi jadi dosen juga ada, tapi sekarang dosen di mana sih yang gajinya udah besar di awal? Pasti ngabdi-ngabdi dulu ke dosen senior dan jam kerjanya over time. Artinya kalau aku harus bekerja, aku memang memulai dari nol. Dan waktu buat anak bakal dikit banget. Uang sekitar 4 jutaan juga nggak akan cukup untuk membayar daycare/pengasuh yang pengasuhannya seperti aku asuh sendiri.

Masa' 4 juta nggak cukup? Iya! Jangan bayangin itu buat bayar pengasuhan doang. Karena kalau aku bekerja aku juga punya kebutuhan lain seperti sandang, kosmetik, jajan, transport, lifestyle, dan lainnya. Pasti habis disitu-situ lagi. Kecuali begitu kerja, gajinya langsung segede gaji suami yang udah di level manajerial, baru pikir-pikir.

Ya udah lah, faktanya pekerjaan suami memang lebih bagus.

Sekarang walaupun di rumah saja, aku juga masih menghasilkan, berkat punya sedikit skill nulis. Per bulan bisa mendapat penghasilan antara 0-7 juta rupiah lebih, tergantung nilai proyek. Kok bisa 0 rupiah? Ya karena sebagai freelance kadang kita nggak dapat proyek sama sekali. Kerja dari rumah bisa sampai 7 juta juga? Bisa. Kalau kita punya skill, orang mau kok bayar mahal. Tapi ya tadi, freelance itu nggak jelas, nggak bisa diandalkan sebagai pemasukan tetap, nggak ada jenjang karier, nggak ada jaminan hari tua, dan lain-lain.

Freelance juga sering dianggap sebagai pengangguran karena kerjaannya sulit dijelaskan. Apalagi ke orang tua-tua atau orang di kampung asal. Banyak yang nanya "Udah S2 ngabisin banyak duit kok nggak kerja? Minimal PNS lah!". Oke, kalau ini aku nggak pernah nanggepin karena sulit mengubah mindset orang tua yang pola pikirnya kerjaan itu cuma PNS. Padahal profesi jaman sekarang kayak Youtuber atau content creator sangat menjanjikan. Termasuk yang kerjanya telecommuting kayak aku udah banyak banget, bukan hal baru lagi

Pertanyaan terakhir yang sering muncul adalah, emang gaji suami doang cukup? Kan belum punya mobil, belum punya rumah sendiri, nggak pengen bantuin nabung?

Cukup banget. Jadi aku jelasin dulu, aku dan suami adalah pasangan yang disapih sejak awal pernikahan. Kita nggak pernah meminta atau dapat sepeserpun uang dari orang tua masing-masing yang sifatnya untuk membantu finansial rumah tangga. Malah sebaliknya. Paling sebatas uang saku anak. Tapi sejauh ini kami baik-baik saja finansialnya.

Rumah memang belum punya sendiri, tapi sekarang belum urgent karena masih dibiayai perusahaan suami untuk ngontrak. Kendaraan, motor Vario 150 kami bisa beli cash. Kenapa belum punya mobil? Karena pengennya cash juga dan sekarang masih nabung. Dan kami juga sudah sepakat nggak mau beli yang LCGC ( yang tahu mobil pasti paham kenapa nggak mau).

Jadi gaji suami masih sangat cukup untuk kebutuhan sehari-hari, happy-happy, dan dana sosial. Meskipun kurang cukup kalau untuk menyewa ART, lebih tepatnya sayang karena bisa mengurangi jatah uang masuk ke reksadana. Jadi ya aku aja ART-nya.

Sebenarnya pekerjaan rumah dengan 3 penghuni juga nggak berat-berat amat. Cuma kadang kesel aja dengan rutinitas dan beban "kerjaan ini baliknya ke aku lagi", "kalau bukan aku nggak ada yang ngerjain", "cuma aku yang mikir buat ngelakuin ini" dan beban pikiran semacamnya. Suami hanya memerankan diri sebagai "asisten", sisanya aku pikir dan handle sendiri. Susah juga sih ya, mayoritas laki-laki mikirnya nggak usah ribet ini itu, standar ini itu. Pokoknya pengurusan rumah dan anak disamakan dengan pengurusan kamar kosnya dan dirinya saat bujang. Susah lah pokoknya karena ini warisan patriarki yang mengakar. Nggak cuma di suamiku, tapi mayoritas laki-laki kita. Suamiku udah tergolong bagus kesadarannya dibanding lelaki umumnya. PR besar nih untuk yang punya anak laki-laki agar punya pola pikir beda. Bahwa yang beda antara laki dan perempuan cuma kelaminnya. Tanggung jawabnya sama pada kehidupan termasuk mengurusi pekerjaan rumah tangga.

Balik lagi ke finansial. Kalau ada tambahan penghasilan dari aku pun biasanya langsung masuk ke Reksadana. Kami juga nggak punya hutang sama sekali, kredit pun nggak. Malah alhamdulillah kami sedang membantu finansial seorang teman yang membutuhkan. So, finansial kami sangat sehat.

Oleh karena itu, aku merasa belum harus bekerja lagi. Apapun gelar yang aku sandang. Semoga bisa tetap jadi "orang" yang punya karya otentik, meski nggak ngantor dan cuma dasteran tanpa makeup pagi-pagi.

Saturday, 26 January 2019

Bayi 10 Bulan Belum Bisa Merangkak dan Duduk Sendiri

Hari ini satu tahun lalu, Bening lahir. Waktu itu kami masih memanggilnya Thuthung, nama janin buat lucu-lucuan. Prosesnya tidak dramatik dan membanggakan.



Bening tumbuh dan berkembang sesuai milestone-nya sampai usia 6 bulan. Dia gendut dan menyusu dengan sangat baik. Bisa mengangkat kepala dengan tegak, tengkurap, telentang, onggong-onggong, bahkan merangkak mundur hampir duduk. MPASI awal pun lancar, nggak GTM, excited, disiplin duduk manis di kursi, makan makanan bergizi dan tentu imunisasinya lengkap.

Sampai tiba saatnya cuti saya habis. Bapak mulai sibuk mencari nanny dan survei daycare. Tapi apa daya hati Ibuk masih tetap patah membayangkan Bening diusap tangan 'orang lain'. Akhirnya kami memutuskan aku dan Bening akan tinggal di Cilacap sampai kami lulus, Bapak tetap di Semarang. LDM.

Hampir sebulanan, waktu yang dibutuhkan Bening untuk adaptasi. Aku tanpa sadar mulai lepas tangan dalam pengasuhan, toh Bening sudah dekat dengan Mbahnya. Bening datang saat menyusu atau sedang ingin dimanja saja.

Aku yang selama 6 bulan sebelumnya selalu all-out dalam pengasuhan, sampai bikin jadwal harian kapan main, apa yang harus diajarkan ke Bening, apa yang harus di-check, dsb. mulai absen dan fokus ke Tesis. Meskipun nggak tiap waktu, tapi pikiranku benar-benar dipenuhi urusan Tesis yang harus segera selesai. Aku tipikal orang yang nggak bisa membagi pikiran. Fokus ke satu hal. Mirip cowok, kalau manut ke stigma awam.

Semua hal terkait pengasuhan seolah aku pindah tangankan. Dan ternyata ini pemikiran yang salah. Bagaimanapun aku dan Mas Faqih adalah PIC dalam pengasuhan Bening. Pihak lain tinggal manut kita aja. Alhasil aku tersadar jauh setelah Bening melewati milestone-milestone selanjutnya. 

Usia 10 bulan Bening belum juga merangkak dan lebih memilih scooting seperti tentara  dengan perutnya. Juga belum duduk sendiri dari tengkurap ataupun telentang. Apalagi berdiri sendiri dan alih-alih berjalan. Aku bahkan menyerah pada takdir "Bening memang tidak merangkak dan akan langsung berjalan." Karena memang ada tipe bayi yang seperti ini.

Aku mulai risau, bertanya sana-sini, membaca ini-itu dan menyimpulkan sendiri bahwa Bening mengalami developmental delay, bahkan aku sempat suudzon Bening tergolong low tone. 

Sampai suatu hari aku memutuskan bertanya-tanya ke 4 dokter spesialis anak via aplikasi Alodokter. Sengaja banyak untuk mencari 2nd, 3rd, dan 4th opinion tentang perkembangan Bening. Benar saja, jawabannya beragam, saran penanganannya pun tak sama. Waktu itu aku memilih untuk memakai pendapat yang paling positive thinking. Bahwa Bening baik-baik saja dan hanya butuh stimulasi lebih terutama saat tummy time.

Aku mulai mengubah cara pandang dan mengumpulkan energi yang lebih besar. Waktu yang lebih banyak untuk Bening. Mengerjakan tesis hanya boleh ketika Bening tidur. Saat dia bangun, habiskan sebanyak mungkin waktu beraktivitas di LANTAI. Serta tidak terlalu banyak memegang tangannya. Membiarkan dia mencari cara sendiri untuk melakukan sesuatu. Membiarkan instingnya untuk merangkak dan duduk sendiri, keluar.

Siapa sangka, di usianya yang ke-11 bulan Bening merangkak, lancar sekali, dan juga duduk baik dari posisi telungkup ataupun telentang. Master. Pelan-pelan kita belajar berdiri sendiri dan melangkah ya Ning.

Entah penjelasannya apa secara medis atau psikologis. Apakah sebelumnya Bening terlalu berfokus pada kemampuan lain sehingga motoriknya lambat, atau dia benar-benar kurang stimulasi, atau hanya memang belum waktunya saja 

Apapun itu aku masih merasa bersalah karena telah lepas tangan pada pengasuhan. Setelah ini, ketika sudah mengasuh Benimg secara penuh lagi, aku ingin menata ulang semuanya. Membayar waktu yang sempat hilang. Meski pasti harus berhadapan dengan cerca dan laku sok tahu dari banyak orang, bahwa aku "punya gelar" dan tak sepantasnya berdiam diri di rumah.

Wait, aku nggak berdiam diri sih. Tenang ya netijen budiman, aku akan tetap berkarya, kerja nggak harus kantoran kan? *Aku bilang gini jangan terus diprospekin bisnis MLM ya* Aku udah dapet "kerja" kok, tepat di hari pemberkasan yudisium, insyaAllah halal dan ada duitnya, wkwkwkwk



Sunday, 23 December 2018

Mas Faqih, Suami yang Nggak Seru Diajak Ngobrol?



"Ada yang mau diomongin nggak?"

"Jangan main HP terus dong, ngobrol yuk!"

Dua kalimat ini sering banget aku lontarin ke Mas Faqih tiap ada kesempatan berduaan. Terlebih sejak kami LDR. Jujur aku merasa was-was. Katanya, suami atau istri itu kan teman hidup, harus yang enak diajak ngobrol tentang apa saja. Artinya tiap ngobrol selalu seru, nggak ada abisnya, dan pastinya nyaman. Tapi aku merasa Mas Faqih hanya ngobrol tentang hal-hal seperti keuangan atau pendidikan. Selebihnya obrolan kami terasa garing, krik-krik, atau tidak ada titik temu.

Wednesday, 5 December 2018

Jadi Ibu Ternyata Merupakan Pekerjaan Paling Berbahaya

Saya sedang di kereta, perjalanan pulang ke Cilacap dari Jogja. Meninggalkan Bening yang tidak mau ASIP maupun formula sejak jam 2 dini hari sampai jam 6 sore hari, sekitar 17 jam kalau tidak salah hitung.

Di seberang tempat duduk saya ada bayi yang usianya mungkin mendekati 2 tahun (saya sok-sokan memprediksi dari jumlah giginya). Sedang mimik. Ibunya dengan galak bilang "DIEM! DIEM!" sambil memaksanya mimik padahal si bayi minta nonton kartun di HP yang baru saja diputar oleh si ibu itu sendiri, namun dimatikan karena mungkin dianggap sudah cukup nontonnya. Sekilas ibu ini terlihat sangat jahat di mata saya.

Wednesday, 21 November 2018

Kurangin Pamer dan Nyinyir Sesama Ibu Muda


Hari ini Bening, anak pertama saya, sudah berusia 10 bulan kurang 5 hari. Tapi dia belum bisa merangkak layaknya bayi-bayi lain. Bening juga belum bisa duduk sendiri. Saya mulai khawatir dan  bertanya pada Mbah Google. Si Mbah mengantarkan saya pada sebuah video di You Tube yang menjelaskan bahwa merangkak pada bayi itu ada dua macam. Pertama, merangkak dengan telapak tangan dan lutut sebagai tumpuan gerak, cara ini paling umum. Satu lagi menggunakan lutut dan lengan bawah sebagai tumpuan gerak. Video itu menyebutnya army's crawl, merangkak gaya tentara. Mbah Bening yang seorang Jawa Ngapak menyebutnya 'ngglangsur'. Saya cukup tenang usai melihat video ini karena Bening ternyata sudah terhitung merangkak, hanya saja menggunakan teknik army's crawl yang tidak biasa tadi.

Wednesday, 24 October 2018

UGM Sudah Wisudaan Lagi Tapi Tesis Saya Belum Juga Selesai


Hari ini UGM menggelar wisuda, lagi-lagi saya belum wisuda.

Saya ingat betul, masuk kuliah S2 pertama kali pada tanggal 15 Februari 2016, hari ulang tahun saya ke 23. Sekarang sudah 28 Oktober 2018, artinya dengan satu kali masa cuti, saya sudah masuk semester ke-5 dan 3 bulan lagi habis.

Tuesday, 18 September 2018

Yang Aku Kangenin dari Mas Faqih Selama LDM



"Coco...Coco...mau aku ajak gosip nggak? Pengen Nyinyirrrr akutu..."

"Kenapa lagi Khiiiing?"

"Sebel deh, masa ada ibu-ibu punya hutang ke mantannya anaknya udah 3 tahun gak dibayar-bayar. Eh terus dia nikahin anaknya gede-gedean dong!"

"Apasi Khiiing Bicik lu Khiiing!!!"

Monday, 25 June 2018

Buat Apa Punya Anak?



Hari ini aku titip surat pengajuan aktif kembali kuliah, setelah cuti semester kemarin. Ini bukan pertama kalinya, sejak hamil aku sudah sering merepotkan teman-teman di Jogja untuk mengurus ini-itu terkait perkuliahan. Dan sedihnya kali ini surat tersebut belum bisa ditandatangani, aku diminta datang langsung ke Jogja atau mengajukan surat kuasa, padahal deadline pengurusannya hari ini. Tentu pilihan kedua yang kulakukan, nggak mungkin aku ninggalin Bening. Ah, semoga masih bisa diurus besok meski telat.

Saturday, 31 March 2018

Namanya Juga Rumah Tangga, Pasti Ada Waktu Nggak Akurnya

Bukan mengumbar masalah pribadi rumah tangga. Tapi setiap cerita selalu bisa membawa hikmah. Karena lagipula apa yang diceritakan tentu tak bisa merangkum lengkap semuanya. Selalu ada yang tak tertulis. 

Thursday, 15 February 2018

Surat untuk Bening



Tepat jam 12.01 (a.m) Ibuk mulai menulis surat ini Nak, nggak tahu kapan selesainya karena sambil menyusui dan mengganti popokmu. Surat yang rencananya Ibuk tulis sebelum kamu lahir, tapi gagal karena lahirmu mendahului HPL.

Saat Ibuk mulai menulis ini, kamu sedang tidur, Bapakmu juga mendengkur. Sementara Ibuk sedang merasa biasa saja saat memasuki usia 25 tahun. Ibuk terjaga untuk menjaga hadiah terbaik yang pernah Ibuk dapat di tanggal 15 Februari.